Sabtu, 09 Juni 2012

Penatalaksanaan atonia Uteri

Abstrak

Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi.
Keywords: Atonia Uteri, post partum, miometrium



History

Seorang Perempuan berumur 31 tahun , dibawa ke RS oleh keluarganya, dan didapatkan autoanamnesis dan alloanamnesis : Perdarahan banyak setelah melahirkan, dari keterangan didapatkan keluarga Pasien datang pukul 04.05 kiriman bidan dengan keterangan post partus spontan beberapa jam yang lalu dengan placenta akreta. Bayi lahir spontan Perempuan , 3000gram Apgar skor tidak diketahui. Plasenta lahir dengan manual dan kesan tidak lengkap, masih tertinggal didalam rahim. Perdarahan keluar banyak, pasien tampak kesakitan dan lemah.

Dari anamnesis didapatkan Riwayat Diabetes Melitus(-), Hipertensi (-), Penyakit Jantung (-), Asma (-). Riwayat obstetri pasien Menarche usai12 tahun, menstruasi teratur sekali tiap bulan, lama haid 7 hari, dismenore (+) keputihan (-). dari pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah 70/40 mmHg, Nadi 125 kali / menit ,Frekuensi Nafas 20 kali / menit, Suhu Afebris



Diagnosis
Syok hemoragic oleh karena Perdarahanpost partum dini oleh karena retensi sisa placenta post partus spontan P1A0H0.

Terapi

Pada pasien ini dilakukan tindakan Perbaiki KU kemudian dilakukan tindakan  Manual placenta, pemberian Oksigen 3-4liter/menit, Infus RL dua jalur dan  oksitoksin 5IU dalam 500ml RL

Diskusi
Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, 1998). Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi (Williams, 1998). HPP biasanya kehilangan darah lebih dari 500 ml selama atau setelah kelahiran (Marylin E Dongoes, 2001). Dalam persalinan sukar untuk menentukan jumlah darah secara akurat karena tercampur dengan air ketuban dan serapan pada pakaian atau kain alas. Oleh karena itu bila terdapat perdarahan lebih banyak dari normal, sudah dianjurkan untuk melakukan pengobatan sebagai perdarahan postpartum.

Cara  yang terbaik untuk mencegah terjadinya perdarahan post partum adalah memimpin kala II dan kala III persalinan secara lega artis. Apabila persalinan diawasi oleh seorang dokter spesialis obstetrik dan ginekologi ada yang menganjurkan untuk memberikan suntikan ergometrin secara IV setelah anak lahir, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah perdarahan yang terjadi. Penanganan umum pada perdarahan post partum adalah Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk), Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya pencegahan perdarahan pasca persalinan), Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca persalinan (di ruang persalinan) dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung), Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat, Segera lakukan penlilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan masalah dan komplikasi, Atasi syok Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukam pijatan uterus, berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam 500cc NS/RL dengan 40 tetesan permenit, Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir. Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah. Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik.


Kesimpulan
Diagnosa pada kasus ini ditegakkan dari hasil anamnesa, dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesa diketahui bahwa bahwa pasien mengalami perdarahan setelah melahirkan pervagina, perdarahan banyak dan diduga akibat bagian dari  placenta yang masih tertinggal didalam rahim. Dari pemeriksaan fisik didapatkan finggi fundus uteri 2 jari dibawah pusar dengan kontaksi baik, hal ini menguatkan diagnosa perdarahan post partum oleh karena retensi sisa placenta kerena pada atonia uteri didapatkan uterus lembek dan tidak ada kontraksi, pada pemeriksaan dalam didapatkan sisa-sisa jaringan placenta, hal ini semakin menguatkan diagnosis perdarahan post partum oleh karena retensi sisa placenta.perdarahan yang terjadi hanya beberapa jam setelah persalian( kurang dari 24 jam menunjukkan bahwa perdarahan post partum yang terjadi adalah dini. Terapi pada kasus ini pada prinsipnya dalah menghentikan perdarahan dan mengganti darah yang hilang dengan cairan fisiologis dan tranfusi darah. Pada  retensi sisa placenta cara menghentikan perdarahannya adalah dengan menghilangkan / mengambil placenta yang masih tertinggal dalam uterus dengan cara manual atau kuretase.

Referensi
1. Eastman, N.J., 1956, William Obstetrics (edisi 18), Apleton - Century -- Crofts, New York EGC, Jakarta
2. Bandung Wibowo, B., & Wiknjosastro, G.H., 1994, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar